Elie Wiesel adalah salah satu saksi hidup kekejaman NAZI dengan berbagai kamp konsentrasi untuk memusnahkan etnis Yahudi di daerah Eropa (Jerman dan daerah-daerah yang berhasil dikuasai oleh tentara SS).
Kamp konsentrasi yang terkenal paling kejam pun pernah dirasakan oleh Elie Wiesel (Auschwitz). Menurut prolog dari beliau, buku ini sebenarnya sudah pernah diterbitkan dulu, jadi ini adalah versi revisi. Revisi ini dilakukan oleh istri beliau (Marion Wiesel) dikarenakan menurut beliau (dalam prolognya), lebih memahami gaya bicaranya dan mampu menyampaikan secara lebih baik kepada orang lain.
Buku ini bercerita mengenai sosok Elie Wiesel yang saat itu berusia 13 tahun dan harus mengaku berusia 18 tahun agar "diijinkan" hidup dan memperkecil kemungkinan langsung "dihadiahi" cerobong krematorium. Cerobong itu adalah tempat manusia Yahudi yang dianggap tidak berguna untuk dibakar. Pembakaran ini tentu tidaklah seperti upacara "Ngaben" atau kremasi seperti layaknya manusia beradab, namun benar-benar dibakar. Tidak sedikit yang langsung dilemparkan begitu saja ke dalam cerobong itu dan kemudian mati secara perlahan, termasuk para bayi-bayi tak berdosa (yang mungkin dianggap "berdosa" karena terlahir Yahudi).
Bagaimana kisah perjuangan melawan "hukuman mati" terus dilakukan oleh beliau dan ayahnya serta rekan-rekannya yang lain di kamp konsentrasi. Anak remaja berusia 13 tahun yang sudah harus berjuang antara hidup dan mati, memiliki dan memberikan semangat hidup bersama sang Ayah seraya wajib untuk tidak selalu teringat akan keadaan Ibu dan saudara perempuannya yang terpisah sejak awal (kamp konsentrasi dipisahkan antara laki-laki dan perempuan).
Para tawanan diharuskan untuk menghancurkan empati dan kesetiakawanan, setidaknya selama mereka masih berstatuskan tawanan. Mereka harus membuat diri tidak peduli ketika seorang rekan terjatuh, terinjak-injak oleh rekan-rekan yang lain karena kram perut sambil terus berlari tanpa henti sepanjang 20 KM dengan hujan salju dengan pakaian seadanya. Bagaimana seorang anak menyalahkan Ayahnya sendiri yang terus memanggil dirinya untuk menemani sang Ayah menjelang kematiannya. Kemarahan permintaan terakhir yang sederhana dari sang Ayah tak mampu dipenuhi karena anaknya tidak berani bergerak mendekat dan mendobrak tentara SS yang memukuli ayahnya.
Ditunjukkan pula betapa sangat rapuhnya manusia itu. Banyak dari tawanan itu adalah manusia-manusia yang taat beribadah, dan patuh beragama. Tidak sedikit yang merupakan Rabbi (pemuka agama) dan Elie Wiesel sendiri merupakan anak yang gemar mempelajari Kitab-Kitab agama. Dari sekian besar rasa cinta dan patuh kepada Tuhan, mereka bisa kehilangan semuanya itu dalam waktu singat di kamp konsentrasi. Meragukan dan marah akan besar dan kasih Tuhan karena telah memberikan "hukuman" dan membuat ketidakadilan seperti yang mereka rasakan atau lihat. Walau tentu, tetap ada yang terus melantunkan doa sebagai penguat perjuangan.
Saya tidak bisa berhenti merasa merinding dan bergidik selama membaca buku ini. Memang, tidak sampai meneteskan air mata, namun dapat merasakan amarah dan kesedihan dalam hati.
Apapun itu, bagi mereka yang menyukai buku tentang kemanusiaan dan sejarah, buku ini pantas dibaca dan diresapi. Buku yang tidak terlalu tebal dengan bahasa ringan namun mengena, seperti mendegar seorang anak remaja bercerita secara langsung. Mari dan silahkan membacanya, supaya harapan salah satu saksi hidup dapat tercapai, yaitu agar
masa lalunya tidak menjadi masa depan siapa pun dari kita.
---------------------------------------------------------
Siapakah Elie Wiesel dapat ditemukan
di Wikipedia.
Beliau mendirikan
Elie Wiesel Foundation for Humanity.
---------------------------------------------------------
Gambar buku dan referensi dapat dilihat di
sini.
Telah tersedia terjemahan dalam Bahasa Indonesia dan dapat ditemukan di toko-toko buku terdekat dengan Anda (
uda kaya iklan. hehehehhe....).