Notification

Posted by Ancilla on Aug 22, '07 3:03 PM for everyone
Category:Books
Genre: Biographies & Memoirs
Author:Elie Wiesel
Elie Wiesel adalah salah satu saksi hidup kekejaman NAZI dengan berbagai kamp konsentrasi untuk memusnahkan etnis Yahudi di daerah Eropa (Jerman dan daerah-daerah yang berhasil dikuasai oleh tentara SS).

Kamp konsentrasi yang terkenal paling kejam pun pernah dirasakan oleh Elie Wiesel (Auschwitz). Menurut prolog dari beliau, buku ini sebenarnya sudah pernah diterbitkan dulu, jadi ini adalah versi revisi. Revisi ini dilakukan oleh istri beliau (Marion Wiesel) dikarenakan menurut beliau (dalam prolognya), lebih memahami gaya bicaranya dan mampu menyampaikan secara lebih baik kepada orang lain.

Buku ini bercerita mengenai sosok Elie Wiesel yang saat itu berusia 13 tahun dan harus mengaku berusia 18 tahun agar "diijinkan" hidup dan memperkecil kemungkinan langsung "dihadiahi" cerobong krematorium. Cerobong itu adalah tempat manusia Yahudi yang dianggap tidak berguna untuk dibakar. Pembakaran ini tentu tidaklah seperti upacara "Ngaben" atau kremasi seperti layaknya manusia beradab, namun benar-benar dibakar. Tidak sedikit yang langsung dilemparkan begitu saja ke dalam cerobong itu dan kemudian mati secara perlahan, termasuk para bayi-bayi tak berdosa (yang mungkin dianggap "berdosa" karena terlahir Yahudi).

Bagaimana kisah perjuangan melawan "hukuman mati" terus dilakukan oleh beliau dan ayahnya serta rekan-rekannya yang lain di kamp konsentrasi. Anak remaja berusia 13 tahun yang sudah harus berjuang antara hidup dan mati, memiliki dan memberikan semangat hidup bersama sang Ayah seraya wajib untuk tidak selalu teringat akan keadaan Ibu dan saudara perempuannya yang terpisah sejak awal (kamp konsentrasi dipisahkan antara laki-laki dan perempuan).

Para tawanan diharuskan untuk menghancurkan empati dan kesetiakawanan, setidaknya selama mereka masih berstatuskan tawanan. Mereka harus membuat diri tidak peduli ketika seorang rekan terjatuh, terinjak-injak oleh rekan-rekan yang lain karena kram perut sambil terus berlari tanpa henti sepanjang 20 KM dengan hujan salju dengan pakaian seadanya. Bagaimana seorang anak menyalahkan Ayahnya sendiri yang terus memanggil dirinya untuk menemani sang Ayah menjelang kematiannya. Kemarahan permintaan terakhir yang sederhana dari sang Ayah tak mampu dipenuhi karena anaknya tidak berani bergerak mendekat dan mendobrak tentara SS yang memukuli ayahnya.

Ditunjukkan pula betapa sangat rapuhnya manusia itu. Banyak dari tawanan itu adalah manusia-manusia yang taat beribadah, dan patuh beragama. Tidak sedikit yang merupakan Rabbi (pemuka agama) dan Elie Wiesel sendiri merupakan anak yang gemar mempelajari Kitab-Kitab agama. Dari sekian besar rasa cinta dan patuh kepada Tuhan, mereka bisa kehilangan semuanya itu dalam waktu singat di kamp konsentrasi. Meragukan dan marah akan besar dan kasih Tuhan karena telah memberikan "hukuman" dan membuat ketidakadilan seperti yang mereka rasakan atau lihat. Walau tentu, tetap ada yang terus melantunkan doa sebagai penguat perjuangan.

Saya tidak bisa berhenti merasa merinding dan bergidik selama membaca buku ini. Memang, tidak sampai meneteskan air mata, namun dapat merasakan amarah dan kesedihan dalam hati.

Apapun itu, bagi mereka yang menyukai buku tentang kemanusiaan dan sejarah, buku ini pantas dibaca dan diresapi. Buku yang tidak terlalu tebal dengan bahasa ringan namun mengena, seperti mendegar seorang anak remaja bercerita secara langsung. Mari dan silahkan membacanya, supaya harapan salah satu saksi hidup dapat tercapai, yaitu agar masa lalunya tidak menjadi masa depan siapa pun dari kita.

---------------------------------------------------------

Siapakah Elie Wiesel dapat ditemukan di Wikipedia.
Beliau mendirikan Elie Wiesel Foundation for Humanity.

---------------------------------------------------------
Gambar buku dan referensi dapat dilihat di sini.
Telah tersedia terjemahan dalam Bahasa Indonesia dan dapat ditemukan di toko-toko buku terdekat dengan Anda (uda kaya iklan. hehehehhe....).


Posted by Ancilla on Aug 23, '06 4:07 AM for everyone
Category:Books
Genre: Other
Author:Prof. Dr. Sarlito Wirawan Sarwono
Buku ini tidak hanya eksklusif "milik" orang-orang yang belajar psikologi, namun bisa untuk non-psikologi. Walaupun tentu, akan lebih mudah bagi mereka yang sudah "kenal" dengan psikologi...

Buku ini merupakan kumpulan studi mengenai prasangka di Indonesia yang juga melibatkan mahasiswa Prof. Sarlito di Psikologi UI. Muatannya cukup luas, dari pendahuluan, prasangka Barat-Timur sampai dengan prasangka seks dan akar permasalahan prasangka di Indonesia.

Waktu saya melihat buku ini, langsung tertarik karena saya MUAK dengan kejadian yang diawali prasangka namun berbuntut panjang dan tentu kerugian disana-sini. Muak karena tidak ada tindak lanjut yang jelas, seakan-akan semua itu sudah biasa....

Intinya adalah untuk melihat lebih dekat mengapa bangsa kita yang majemuk ini selalu terpentok dengan masalah yang sama, SARA.

Konsep "Bhinneka Tunggal Ika" sudah lama tercipta, diikuti dengan jargon politik serta segala jenis pembangunan yang seakan "mencekoki" kita semua untuk bersatu. Tapi ternyata, semakin "tua" usia bangsa, kita malah semakin ingin menunjukkan keberagaman kita.

Tapi kok ndalalah kita malah jadi ancur sendiri? Mau tampil beda tapi belum siap, mungkin?

Menurut buku ini yang didasarkan pada penelitian, semua itu karena kita tidak percaya diri. Jadi ngikut apa kata orang. Mungkin karena ini jadi gampang di-provokasi ya?

Serta ketidakpastian norma. Norma yang paling "jelas" saja sering "tidak jelas" bukan?

Nah lalu, Indonesia sempat mengalami masa transisi, yang sampai skarang belum benar-benar pulih. Timbul perbedaan antara harapan dan kenyataan. Karena itu akhirnya timbul rasa tidak percaya pada orang lain dan kelompok tertentu.

Akhirnya kembali ke norma yang "lama" yang sayangnya dengan konteks yang lama bukan dengan konteks situasi saat ini.

Sempat dibahas juga bahwa mungkin kita sangat dicekoki oleh "nasionalisme" setelah kemerdekaan. Tapi tidak ada jembatan untuk mengatasi perbedaan yang ada dari kemajemukan negara ini. Akhirnya terjadilah konflik tak berkesudahan...

Dan seperti yang disebutkan di akhir buku, kapankah akan ada sumpah seperti "Satu Bangsa, Satu Bahasa dan Satu Tanah Air: Indonesia" lagi? Semoga tidak sekedar kiasan dan mimpi saja.....


Posted by Ancilla on Jun 15, '06 9:45 PM for everyone
Category:Books
Genre: Parenting & Families
Author:Susanna Tamaro
Judul asli: Va' dove ti porta il cuore

Lokasi dimana cerita berlangsung adalah Italia. Maklum, penulis juga warga negara Italia.

Menceritakan Olga, si Oma yang tinggal sendiri namun menanti dengan penuh harap akan kehadiran cucunya. Sementara, anaknya (ibu dari cucu itu) sudah meninggal dunia setelah bertengkar dengannya...

Olga pun mengisi waktunya dengan membuat buku harian, yang kebetulan berakhir di 22 Desember (hari ibu versi Indonesia).

Jurnal itu berkisah bagaimana pandangannya terhadap kehidupan. Dari masa kecil hingga saat itu. Bagaiman perubahan-perubahan dalam dirinya, pendapat, ketidaksetujuan, pengkhianatan, cinta, kecewa dan seterusnya hingga rasa tidak ingin dikasihani karena sudah tua renta.

Ada dua hal yang paling aku ingat...
1. Don't you ever judge other people, while you never try to use their shoes.

2. Manusia itu ada miripnya dengan kerang. Seiring dengan waktu, kita terus melapisi diri yang akhirnya membuat "benteng" bagi kita. Ketika remaja, lapisan-lapisan itu semakin cepat dibuat dan jadilah remaja pemberontak dengan idealismenya. Teruuuus begitu, hingga akhirnya ketika tua... Kita memiliki waktu untuk melihat semuanya dengan tenang, perlahan... lapisan itu terkuak dan akhirnya kita menangis... Menangis karena masa lalu yang bahagia dan tak mungkin kembali... Menangis pedih karena penyesalan-penyesalan dan kesalahpahaman yang tidak perlu terjadi.

Percayalah, banyak hal yang bisa dipelajari dari buku ini. Aku aja ampe menggaris-garis-kan kata-katanya beserta komentar...

Para perempuan, bacalah, karena bisa membuat kita lebih mengerti mengenai hidup kita sebagai perempuan.
Para lelaki, bacalah, karena bisa membuat kalian lebih memahami jalan pikir perempuan....


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help